Selasa, 22 Mei 2012

Studi Islam dengan Pendekatan Historis, Sosiologis dan Antropologis


Studi islam dengan pendekatan historis, sosiologis dan antropologis


A.Pendahuluan


Dalam rangka mewujudkan kecintaan dan keya kinan manusia terhadap
Islam yang tidak hanya bersifat normatif dan bukan pula karena emosional semata- mata karena didukung oleh argumentasi  yang bersifat rasional, kultural,
dan  aktual, maka studi terhadap misi ajaran Islam secara komprehensif dinilai sangat urgen. Studi Islam juga dapat membuktikan kepada umat manusia bahwa  Islam baik  secara  normatif  maupun  secara  kultural  dan rasional  adalah ajaran  yang  dapat membawa manusia  kepada kehidupan  yang  lebih  baik, tanpa harus  mengganggu  keyakinan  agama  Islam.  Selain  itu,  studi  Islam  juga  dapat menumbuhkan  sikap  objektif  dan  akan  menghilangkan  citra  negatif  dari sebagian masyarakat terhadap ajara n Islam.
Mata  Kuliah  Metodologi  Studi  Islam  (MSI)  merupakan  mata  kuliah untuk  program  studi  S-1  di  Fakultas  Tarbiyah  STAIN  Kudus.
Dalam  perkuliahan  mata kuliah  ini  mahasiswa   akan  diarahkan  pada  cara memahami Islam,  baik  Islam  sebagai  agama, budaya  dan  ilmu.  Islam  sebagai agama  menjadi  pandangan  hidup, sedangkan  sebagai  budaya  Islam  jadi  gejala sosial  yang muncul sebagai jawa ban kritis masyar akat. Sela in itu, Islam sebagai ilmu  sangat  menarik  untuk  dikaji  dengan  berbagai  pendekatan,  metode  dan kajian ilmiyah lainnya.

A.1. Rumusan masalah

Ada  berbagai  metodologi  dalam  mengkaji  islam  seperti  pendekatan
normatife,  antropologis,  sosiologis,  fisiologis,  historis,  kebudayaan dan psikologi. Pada kesempatan ini pemakalah akan membahas tentang:

  1. Pengertian studi islam dengan pendekatan Histories              ?
  2. Pengertian studi islam dengan pendekatan Sosiologis            ?
3.       Pengertian studi islam dengan pendekatan Antropologis       ?
B. Pembahasan

B.1. Pengertian studi islam dengan pendekatan Historis


Sejarah  atau  historis  adalah  suatu  ilmu   yang      didalamnya  dibahas
berbagai  peristiwa   dengan  memperhatikan  unsur   tempat,  waktu,  obyek, latar  belakang, dan pelaku  dari peristiwa tersebut. Menurut  ilmu   ini  segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat  kapan   peristiwa  itu terjadi, dimana, apa sebabnya, dan siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.[1]
Melalui pendekatan  sejarah seseorang akan diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.
Pendekatan kesejahteraan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama. Begitu juga dengan islam karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang kongkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial   kemasyarakatan.
Sejarah hanya sebagai metode analisis atas dasar pemikiran bahwa sejarah dapat meyajikan gambaran tentang unsur-unsur yang mendukung timbulnya suatu lembaga. Pendekatan sejarah bertujuan untuk menentukan inti karakter agama dengan meneliti sumber klasik sebelum dicampuri yang lain. Dalam menggunakan data historis maka akan dapat menyajikan secara detail dari situasi sejarah tentang sebab akibat dari suatu persoalan agama.[2]
Melalui pendekatan sejarah ini, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Disini seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konsep historisnya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya. Misalnya seseorang yang ingin memahami Al-Qur’an secara benar maka ia harus mempelajari sejarah turunnya Al-Qur’an atau kejadian-kejadian yang mengiringi turunnya Al-Qur’an.
Dengan pendekatan historis ini masyarakat diharapkan mampu memahami nilai sejarah adanya agama Islam. Sehingga terbentuk manusia yang sadar akan historisitas keberadaan islam dan mampu memahami nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

B.2. Pengertian studi islam dengan pendekatan Sosiologis


Sosiologis adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologis mencoba mengerti sifat dan maksut hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup ini serta pula kepercayaannya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup manusia.[3]  Sementara itu Soerjono Soekanto mengartikan sosiologis sebagai satuan ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian. Sosiologos tidak menetapkan ke arah mana suatu sesuatu seharusnya berkembang dalam arti memberi petunjuk-petunjuk yang menyangkut kebijaksanaan kemasyarakatan dari proses kehidupan bersama tersebut. Di dalam ilmu ini juga dibahas tentang proses-proses sosial, mengingat bahwa ilmu pengetahuan perihal struktur masyarakat saja belum cukup untuk memperoleh gambaran yang nyata mengenai kehidupan bersama dari manusia.[4]
Dari dua definisi tersebut terlihat bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala social lainnya yang saling berkaitan. Dengan ilmu ini suatu fenomena sosila dapat dianalisa dengan faktor-faktor yang mendorong terjadinya hubungan, mobilitas social serta keyakinan-keyakinan yang mendasari terjadinya proses tersebut.
Selanjutnya sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi. Dalam Agama islam dapat dijumpai peristiwa Nabi Yusuf yang dahulu budak lalu akhirnya dapat menjadi penguasa Mesir. Mengapa dalam melaksanakan tugasnya Nabi Musa harus dibantu oleh Nabi Harun, dan masih banyak lagi contoh yang lain. Beberapa peristiwa tersebut baru dapat dijawab dan sekaligus dapat ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu social. Tanpa ilmu sosial peristiwa-peristiwa tersebut sulit dijelaskan dan sulit pula dipahami maksudnya. Disinilah letaknya sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran agama.
Pentingya pendekatan sosiologi dalam memahami agama sebagaimana disebutkan di atas, dapat dipahami, karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Besarnya perhatian agama terhadap masalah sosial ini selanjutnya mendorong kaum agamanya.
Melalui pendekatan sosiologis agama akan dapat dipahami dengan mudah, karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam    Al-Qur’an misalnya kita jumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya, sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu bangsa dan sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya mengetahui sejarah sosial pada saat ajaran agama itu diturunkan.
 
B.3. Pengertian studi islam dengan pendekatan Antropologis

Pendekatan anatropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memebrikan jawabannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan dalm disiplin ilmu agama. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Dawam Raharjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif. Dari sini timbul kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya induktif yang mengimbangi pendekatan deduktif sebagaimana digunakan dalam pengamatan sosiologis. Penelitian antropologis yang induktif dan grounded, yaitu turun ke lapangan tanpa berpijak pada, atau setidak-tidaknya dengan upaya membebaskan diri dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagaimana yang dilakukan di bidang sosiologi dan lebih-lebih ekonomi yang menggunakan model-model matematis, banyak juga memberi sumbangan kepada penelitian histories.[5]
Sejalan dengan pendekatan tersebut, maka dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Golongan masyarakat yang kurang mampu dan golongan miskin pada umumnya, lebih tertarik kepada gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat messianis, yang menjanjikan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan. Sedangkan golongan orang yang kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran tatanan itu menguntungkan pihaknya.
Dengan demikian pendekatan antropologis sangat dibutuhkan dalam memahami agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan lewat bantuan ilmu antropologi dengan cabang-cabangnya.  

C. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat di simpulakan bahwa :
1.      Pendekatan Historis
Yang dimaksud dengan pendekatan historis adalah meninjau suatu permasalahan dari sudut tinjauan sejarah, dan menjawab permasalahan serta menganalisisnya dengan menggunakan metode analisis sejarah. Sejarah atau histori adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa atau kejadian masa lalu yang menyangkut kejadian atau keadaan yang sebenarnya.
2.      Pendekatan Sosiologis
Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari manusia dan interaksi manusia dengan manusia lain,  interaksi seseorang induvidu dengan individu  yang  lain, atau individu dengan kelompok masyarakat, masyarakat dengan masyarakat, pemimpin dengan rakyat, rakyat dengan rakyat, organisasi dengan organisasi.
Melalui pendekatan ini kita dapat memahami bahwa agama islam mengatur segala berbagai hubungan, baik hubungan dengan Pencipta dan hubungan dengan sesama makhluk. Menjadikan sebuah tatakrama yang baik dan mengetahui bahwa gama islam diturunkan bukan hanya sekedar untuk menyembah Allah tetapi juga bagaimana kita berhubungan dengan sesama makhluk menjadi lebih baik.
3.      Pendekatan Antropologis
Antropologi didefinisikan sebagai sebuah ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna, bentuk fisik, adat istiadat dan kepercayaannya pada masa lampau. Antropologi sebagai sebuah ilmu kemanusiaan sangat berguna untuk memberikan ruang studi yang lebih elegan dan luas. Sehingga nilai-nilai dan pesan keagamaan bisa disampaikan pada masyarakat yang heterogen.
Antropologis sebagai salah satu pendekatan agama yang diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.


































                           DAFTAR PUSTAKA


Atang Abdul Hakim, Metodologi Studi Islam, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000
Taufik Abdullah, Sejarah Dan Masyarakat, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987
Hassan Shadili, Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia, Bina Aksara, Jakarta, 1983
Soerjono Soekanti, Sosiologi Untuk Pengantar, CV. Rajawali, Jakarta, 1982  
M.Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim, Metodologi   Penelitian Agama, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1990








[1] Atang Abdul Hakim. Metodologi Studi Islam. (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. 2000).
hlm. 64

[2] Taufik Abdullah. Sejarah dan Masyarakat. (Jakarta : Pustaka Firdaus. 1987). hlm. 105

[3] Hassan Shadily, Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia, (Jakarta: Bina Aksara, 1983), hlm. 1
[4] Soerjono Soekanti, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: CV Rajawali, 1982), hlm. 18
[5] M. Dawam Raharjo, “Pendekatan Ilmiah Terhadap Fenomena Keagamaan” dalam M. Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), hlm. 19

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar